Showing posts with label Garut. Show all posts
Showing posts with label Garut. Show all posts

08 October, 2014

Tagged under:

Kawah Talaga Bodas



Kawah Talaga Bodas adalah salah satu keindahan alam yang dimiliki kabupaten Garut. Kawah talaga bodas merupakan kawah gunung Talaga Bodas yang membentuk sebuah Talaga (danau) bersulfur jenuh berwarna putih. Kawasan Taman wisata alam Talaga Bodas dikelola oleh BKSDA Jawa Barat.

Kawah Talaga Bodas berada diketinggian 1512 m dpl, sedangkan Gunung Talaga bodas sendiri mempunyai ketinggian 2201 m dpl. Puncak Gunung Talaga bodas merupakan perbatasan kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya. Gunung Talaga Bodas merupakan satu dari lima gunung yang menjadi simbol lambang Kabupaten Garut.



Cagar Alam Gunung Talaga bodas terletak di kecamatan Pangatikan dan kecamatan Wanaraja seluas 258,05 Ha dan Taman Wisatav Alam (TWA) Kawah talaga Bodas seluas 27,88 Ha berada di kecamatan Pangatikan (Sumber: Kang Ayi Dinas Tata Ruang Garut). Berjarak kurang lebih 28 km dari Garut kota. Ke kawasan Talaga bodas bisa diakses dengan kendaraan, baik motor maupun mobil. Jalurnya sempit cukup satu mobil. Bagi wisatawan yang hendak ke Talaga bodas bisa menggunakan jalur Jakarta/Bandung - Garut - Wanaraja maupun Jakarta/Bandung - Limbangan - Cibatu - Wanaraja. Setelah di Wanaraja, tidak ada petunjuk ke tempat wisata ini. Bisa bertanya ke penduduk. Penandanya sekitar pasar wanaraja ada belokan ke kanan (kalo dari arah Garut)/ke kiri (kalo dari arah Cibatu).

Dari belokan pasar Wanaraja masih harus menempuh perjalanan kira-kira 14 km. 1 km pertama setelah belokan jalannya lumayan mulus, tidak ada yang berlubang. Setelah ini akan melewati jalan yang lumayan rusak berat sepanjang 3 km. Berlubang dan terkelupas aspalnya dibeberapa bagian. Jika hujan, air langsung ke badan jalan. Inilah yang membuat jalan cepat rusak. Jika kemarau, jalan yang jelek ini membuat pengendara merasa tidak nyaman karena debu dari jalan ini.

Setelah melewati jalan yang banyak berlubang, masih menempuh 10 km lagi. Jalannya mulus karena baru beberapa bulan di hotmix. Jalan yang berliku dan menanjak dengan latar pemandangan perbukitan yang ditanami kebun-kebun sayur. Dibeberapa titik ada bagian yang longsor. Di pertigaan jalur talaga-karaha bodas ada beberapa warung, berhenti terlebih dahulu untuk menikmati pemandangan hamparan Garut dan Gunung 'piramida' Sadahurip. Di titik ini kita bisa melihat Gunung sadahurip dengan jelas. Kemudian melanjutkan sampai dengan pintu gerbang masuk Kawasan Wisata Alam (KWA) Talaga Bodas.

 
Ketika sampai di pintu masuk. Disambut dengan portal, tiket masuk ke kawasan ini adalah Rp 5.000,-. Fasilitas parkir sudah tersedia untuk kendaraan-kendaraan wisatawan. Dari tempat parkir jalan kaki 200 meter ke lokasi kawah. Lumayan hiking sepanjang 200 meter ini membuat sehat.

Pertama kali memasuki kawah Talaga bodas merasa tidak percaya kalau Garut punya tempat seindah ini. Sebuah danau yang airnya berwarna putih, dikelilingi gunung yang rimbun dengan pepohonan. Menikmati kawah ini bisa dari berbagai sudut. Tak lengkap jika ke kawah talaga bodas tak mengelilingi dan menyusuri tiap sudutnya. Karena setiap sudut memberikan pemandangan yang luar biasa. Salah satu favorit adalah dekat kawah yang aktip, hati-hati jangan mendekat karena berbahaya. Didekat kawah aktip naik ke atasnya, viewnya luar biasa. Bagi pecinta photography, akan merasa puas mengambil view disini.

Bagi wisatawan yang ingin relaksasi, di bagian sebelah kanan kawah ada tempat pemandian air panas alami. Bisa berenang atau sekedar berendam kaki dinikmati secara cuma-cuma. Merasakan setiap pijatan dari air panas alami ini.
Tagged under:

Gunung Cikuray



Gunung yang memiliki ketinggian 2.818 mdpl ini merupakan salah satu gunung yang terletak di selatan kota Garut, Jawa Barat. Tepatnya berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang dan Dayeuh Manggung. Gunung Cikuray termasuk sebagai gunung yang tidak aktif dan identik dengan bentuknya yang menyerupai kerucut raksasa. Oleh karena itu, berdasarkan karakteristik bentuknya, di gunung ini sulit ditemukan mata air sepanjang perjalanan menuju puncak. Jalur pendakian gunung Cikuray sangat unik dan menantang. Trek yang terjal dan sulit menjadi tantangan tersendiri dalam pendakian gunung ini. Puncak gunung ini dapat ditempuh dengan waktu 7-8 jam pendakian. 




Untuk mencapai puncak Cikuray, umumnya para pendaki mengawali perjalanannya melalui desa Dayeuh Manggung kecamatan Cilawu, Garut. Dibanding dengan jalur Bayongbong atau Cikajang, jalur ini relatif lebih mudah untuk didaki menuju puncak. Dari terminal bus Guntur, Garut, dapat dilanjutkan dengan menggunakan angkot bernomor 06 yang memiliki trayek Garut-Cilawu dengan tarif sekitar Rp. 3000,-. Lalu turun di Patrol dan kemudian lanjut menuju perkebunan teh Dayeuh Manggung. Dari Patrol, pendaki dapat menyewa jasa ojek dengan tarif sekitar Rp. 20.000. Bagi yang ingin berjalan kaki, perjalanan dapat ditempuh dalam waktu 2-3 jam.

01 May, 2014

Tagged under: ,

Garut, Swiss Van Java




Jika Bandung terkenal dengan Paris Van Java, maka Garut mempunyai julukan yang tidak kalah, yaitu Swiss Van Java. Keindahan gunung, alam, danau dan dodolnya, menjadikan Garut sebagai 'Swiss' dari Jawa.

Swiss terkenal dengan udaranya yang sejuk, memiliki daerah perbukitan dan beberapa pegunungan, serta danaunya yang bersih. Tidak usah jauh-jauh ke Swiss, hal tersebut dapat Anda temukan di Garut, sebuah kabupaten di Jawa Barat. Istilah Garut sebagai Swiss Van Java sudah dikenal sejak zaman kolonial Belanda. Ratu Wilhelmina, Ratu Belanda di zaman kolonial, dikabarkan memiliki peristirahatan pribadi di Garut pada saat itu.





Sepanjang mata Anda memandang di Garut, wilayah-wilayah perbukitan akan menyapa Anda. Salah satu gunung yang terkenal di Garut adalah Gunung Papandayan. Gunung Papandayan berada di ketinggian 2.665 meter di atas permukaan laut. Kesegaran dan kesejukannya, tidak kalah dengan Gunung Alpen di Swiss. Gunung Papandayan adalah gunung favorit bagi para pendaki gunung. Selain kesejukannya, keindahan pemandangan alam dengan edelweis akan menambah pesona Gunung Papandayan.






Jika Swiss punya Danau Interlaken, Swiss punya Situ Bagendit yang tidak kalah dengan pemandangan alamnya. Jika ingin merasakan pesona danau dengan kebudayaan Sunda yang kental, Anda juga bisa datang ke Kampung Sampireun. Di sana, sambil menjelajahi danau yang tenang, Anda dapat melihat berbagai jenis kebudayaan Sunda dari dekat.






Selain danau, ada banyak sumber air panas di Garut yang dapat Anda kunjungi. Sumber air panas yang terkenal di Garut, salah satunya adalah Cipanas. Pemandian Cipanas telah menjadi salah satu wisata alternatif bagi warga ibu kota, yang ingin melepas kejenuhan dengan mandi air panas sambil ditemani suasana khas pegunungan. Jika ingin berlama-lama di pemandian Cipanas, di sana juga terdapat beberapa penginapan dengan harga yang terjangkau.




Jika ingin menantang adrenalin, Garut mempunyai Sungai Cikandang yang akan menantang Anda dengan arung jeramnya. Arus di Sungai Cikandang cukup menantang. Di tambah dengan keasrian alamnya, dijamin adrenalin Anda akan semakin terpacu.





Mencari keindahan pantai di Garut, dapat Anda temukan di Pantai Santolo. Pantai ini dapat ditempuh dari Kota Garut selama 3,5 jam. Selama perjalanan menuju pantai, Anda akan melewati daeah perbukitan yang berliku-liku. Perjalanan yang seolah 'menjelajah bukit' ini, akan menggoda Anda untuk mengabadikannya dengan kamera. Pantai Santolo memiliki pasir yang bersih, ombak yang tenang, dan air yang jernih. Keindahan sunsetnya jangan sampai Anda lewatkan.






Satu hal yang menarik, jika Swiss mempunyai cokelat yang lezat, maka Garut mempunyai 'coklat' juga alias dodol yang sangat enak dan legit. Dodol Garut merupakan dodol yang terkenal, dan menjadi oleh-oleh khas Garut. Dodol Garut telah diproduksi sejak tahun 1926. Dodol Garut memiliki rasa yang legit dan tidak memiliki bahan pengawet. Kelegitan dan rasa dodol Garut, adalah sebagai penutup yang manis saat Anda berkunjung dari Garut. Inovasi terbaru dari Garut adalah coklat dodol atau Chocodot, menggabungkan makanan tradisional Garut dengan gaya coklat ala Swiss!


Selain objek-objek wisata di atas, masih banyak objek wisata di Garut yang layak Anda kunjungi. Keindahan alamnya pun, akan membuat Anda betah berlama-lama di Garut. Silakan berkunjung ke Garut dan menikmati Swiss Van Java!
Tagged under: ,

Sejarah Singkat Kabupaten Garut



Sejarah Kabupaten Garut berawal dari pembubaran Kabupaten Limbangan pada tahun 1811 oleh Daendels dengan alasan produksi kopi dari daerah Limbangan menurun hingga titik paling rendah nol dan bupatinya menolak perintah menanam nila (indigo). Pada tanggal 16 Pebruari 1813, Letnan Gubernur di Indonesia yang pada waktu itu dijabat oleh Raffles, telah mengeluarkan Surat Keputusan tentang pembentukan kembali Kabupaten Limbangan yang beribu kota di Suci. Untuk sebuah Kota Kabupaten, keberadaan Suci dinilai tidak memenuhi persyaratan sebab daerah tersebut kawasannya cukup sempit.

Berkaitan dengan hal tersebut, Bupati Limbangan Adipati Adiwijaya (1813-1831) membentuk panitia untuk mencari tempat yang cocok bagi Ibu Kota Kabupaten. Pada awalnya, panitia menemukan Cimurah, sekitar 3 Km sebelah Timur Suci (Saat ini kampung tersebut dikenal dengan nama Kampung Pidayeuheun). Akan tetapi di tempat tersebut air bersih sulit diperoleh sehingga tidak tepat menjadi Ibu Kota. Selanjutnya panitia mencari lokasi ke arah Barat Suci, sekitar 5 Km dan mendapatkan tempat yang cocok untuk dijadikan Ibu Kota. Selain tanahnya subur, tempat tersebut memiliki mata air yang mengalir ke Sungai Cimanuk serta pemandangannya indah dikelilingi gunung, seperti Gunung Cikuray, Gunung Papandayan, Gunung Guntur, Gunung Galunggung, Gunung Talaga Bodas dan Gunung Karacak.

Saat ditemukan mata air berupa telaga kecil yang tertutup semak belukar berduri (Marantha), seorang panitia "kakarut" atau tergores tangannya sampai berdarah. Dalam rombongan panitia, turut pula seorang Eropa yang ikut membenahi atau "ngabaladah" tempat tersebut. Begitu melihat tangan salah seorang panitia tersebut berdarah, langsung bertanya : "Mengapa berdarah?" Orang yang tergores menjawab, tangannya kakarut. Orang Eropa atau Belanda tersebut menirukan kata kakarut dengan lidah yang tidak fasih sehingga sebutannya menjadi "gagarut".

Sejak saat itu, para pekerja dalam rombongan panitia menamai tanaman berduri dengan sebutan "Ki Garut" dan telaganya dinamai "Ci Garut". (Lokasi telaga ini sekarang ditempati oleh bangunan SLTPI, SLTPII, dan SLTP IV Garut). Dengan ditemukannya Ci Garut, daerah sekitar itu dikenal dengan nama Garut.. Cetusan nama Garut tersebut direstui oleh Bupati Kabupaten Limbangan Adipati Adiwijaya untuk dijadikan Ibu Kota Kabupaten Limbangan.

Pada tanggal 15 September 1813 dilakukan peletakkan batu pertama pembangunan sarana dan prasarana ibukota, seperti tempat tinggal, pendopo, kantor asisten residen, mesjid, dan alun-alun. Di depan pendopo, antara alun-alun dengan pendopo terdapat "Babancong" tempat Bupati beserta pejabat pemerintahan lainnya menyampaikan pidato di depan publik. Setelah tempat-tempat tadi selesai dibangun, Ibu Kota Kabupaten Limbangan pindah dari Suci ke Garut sekitar Tahun 1821. Berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Jenderal No: 60 tertanggal 7 Mei 1913, nama Kabupaten Limbangan diganti menjadi Kabupaten Garut dan beribu kota Garut pada tanggal 1 Juli 1913. Pada waktu itu, Bupati yang sedang menjabat adalah RAA Wiratanudatar (1871-1915). Kota Garut pada saat itu meliputi tiga desa, yakni Desa Kota Kulon, Desa Kota Wetan, dan Desa Margawati. Kabupaten Garut meliputi Distrik-distrik Garut, Bayongbong, Cibatu, Tarogong, Leles, Balubur Limbangan, Cikajang, Bungbulang dan Pameungpeuk.
Pada tahun 1915, RAA Wiratanudatar digantikan oleh keponakannya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). Pada masa pemerintahannya tepatnya tanggal 14 Agustus 1925, berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal, Kabupaten Garut disahkan menjadi daerah pemerintahan yang berdiri sendiri (otonom). Wewenang yang bersifat otonom berhak dijalankan Kabupaten Garut dalam beberapa hal, yakni berhubungan dengan masalah pemeliharaan jalan-jalan, jembatan-jembatan, kebersihan, dan poliklinik. Selama periode 1930-1942, Bupati yang menjabat di Kabupaten Garut adalah Adipati Moh. Musa Suria Kartalegawa. Ia diangkat menjadi Bupati Kabupaten Garut pada tahun 1929 menggantikan ayahnya Adipati Suria Karta Legawa (1915-1929). 


Sampai tahun 1960-an, perkembangan fisik Kota Garut dibagi menjadi tiga periode, yakni pertama (1813-1920) berkembang secara linear. Pada masa itu di Kota Garut banyak didirikan bangunan oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk kepentingan pemerintahan, berinvestasi dalam usaha perkebunan, penggalian sumber mineral dan objek wisata. Pembangunan pemukiman penduduk, terutama disekitar alun-alun dan memanjang ke arah Timur sepanjang jalan Societeit Straat.



Periode kedua (1920-1940), Kota Garut berkembang secara konsentris. Perubahan itu terjadi karena pada periode pertama diberikan proyek pelayanan bagi penduduk. Wajah tatakota mulai berubah dengan berdirinya beberapa fasilitas kota, seperti stasiun kereta api, kantor pos, apotek, sekolah, hotel, pertokoan (milik orang Cina, Jepang, India dan Eropa) serta pasar.
Periode ketiga (1940-1960-an), perkembangan Kota Garut cenderung mengikuti teori inti berganda. Perkembangan ini bisa dilihat pada zona-zona perdagangan, pendidikan, pemukiman dan pertumbuhan penduduk. 
Postingan Blogger. Powered by Blogger.